PEKALONGAN – Bangunan lama Rutan Kelas IIA Pekalongan yang dahulu berfungsi sebagai Fort De Beschermer menarik minat komunitas heritage Jakarta untuk melakukan kunjungan sejarah, Kamis (26/3/2026).
Kegiatan ini didampingi langsung oleh Kasubsi Pelayanan Tahanan M. Anang Saefulloh dan Kasubsi Bimbingan Kegiatan Suharto Laksono. Anggota komunitas heritage, Dila bersama rekan-rekannya diajak mengelilingi area luar rutan untuk melihat sisa bastion (benteng pertahanan) peninggalan benteng yang dibangun pada tahun 1753 tersebut.
Dalam penelusuran tersebut, pengunjung diperkenalkan pada bastion yang masih tersisa beserta sentry box—ruang perlindungan kecil yang hanya cukup untuk satu orang penembak. Dari beberapa sentry box yang pernah ada, kini hanya sentry box sisi timur yang masih dapat dijumpai, sementara bagian barat telah hilang seiring perjalanan waktu.
Anang menyampaikan bahwa keberadaan sisa benteng ini menjadi bukti sejarah penting bagi Kota Pekalongan.
“Bangunan ini bukan hanya bagian dari sejarah pemasyarakatan, tetapi juga warisan kolonial yang memiliki nilai edukasi dan perlu dikenalkan kepada masyarakat agar tetap terjaga, ” ungkapnya.
Pada masa kolonial, benteng yang dibangun oleh VOC ini berfungsi untuk mengawasi aktivitas pelabuhan di Pelabuhan Krapyak serta jalur kapal yang masuk melalui Sungai Loji. Dari titik ini, pasukan VOC dapat memantau pergerakan kapal sekaligus mengawasi kawasan hutan yang kala itu masih menutupi sebagian wilayah Pekalongan.
Kunjungan komunitas heritage ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian bangunan bersejarah serta memperkenalkan kembali jejak sejarah Fort De Beschermer kepada masyarakat luas.
Foto: Dila
Kontributor: Hufan
Editor: Tim Humas Rutan Pekalongan
